Kamis, 16 Januari 2014

Nilai Kapitalisasi Pasar PGN Turun, Apa Pemicunya?

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!

VIVAnews - Harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), dari awal tahun hingga pertengahan bulan ini sudah terkoreksi sekitar delapan persen dan sahamnya cenderung melemah. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, per 2 Januari 2014, harga saham berkode perdagangan PGAS itu bercokol di level Rp4.600. Namun, pada penutupan perdagangan 16 Januari 2014, harga merosot ke level Rp4.260.

Bukan hanya harga saham yang terkoreksi, nilai kapitalisasi pasar (market capitalization) perusahaan gas pelat merah tersebut juga turun.

Pada akhir 2013, ketika harga ditutup di posisi Rp4.475, nilai kapitalisasi pasar PGN tercatat Rp108,48 triliun. Namun, dibandingkan hari ini, saat harga bercokol di posisi Rp4.300, nilai kapitalisasi pasar turun sebesar Rp4,24 triliun menjadi Rp104,23 triliun.

Lalu, apa penyebabnya?

Menurut analis PT Valbury Asia Securities, Robin Setiawan, setidaknya ada dua faktor yang memengaruhi pergerakan saham berkode PGAS itu beberapa hari terakhir.

Pertama, terkait rencana open access (kebijakan penggunaan pipa gas bersama). Pipa yang sudah dimiliki PGN diminta pemerintah untuk bisa dipakai bersama dengan pemain migas BUMN lainnya.

"Itu awalnya. Jadi, PGN tidak terima. Walau akhirnya, mau tidak mau juga harus ikut pemerintah," kata Robin kepada VIVAnews, Jumat 17 Januari 2014.

Kedua, Robin melanjutkan, adanya wacana mengenai rencana akuisisi perusahaan oleh PT Pertamina. 

"Apa pun namanya, akuisisi atau merger, itu tidak disukai asing. Sejak awal, PGN disukai asing, dibanding Pertamina. Sebab, ketika industri migas ini butuh kekuatan modal, PGN mampu menggalang pendanaan dari luar," ujarnya.

Dia menambahkan, citra PGN cukup baik di kalangan investor. Sebab, struktur organisasi di dalamnya sudah rapi. "Jadi, kalau mau dimerger, Pertamina yang di bawah PGN," tutur Robin. 

Namun, Robin tetap merekomendasikan beli pada saham PGN. Sebab, biasanya sentimen negatif tidak akan berlangsung lama dan perlahan-lahan bisa diterima pasar. Apalagi, skema yang ditawarkan pemerintah, sepertinya tidak bisa ditolak perseroan.

"Toh, ujung-ujungnya digabung juga, terlepas siapa yang di atas atau di bawah," tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PGN, Heri Yusup, dalam penjelasan tertulis kepada PT Bursa Efek Indonesia, kemarin, mengatakan, perseroan hingga saat ini belum menerima perintah dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait rencana aksi korporasi itu.

"Untuk pelaksanaan aksi korporasi berupa penggabungan atau peleburan usaha, kami akan melakukan sesuai Anggaran Dasar dan peraturan perundangan yang berlaku," ujar Heri.

Dia menambahkan, perseroan akan menyampaikan informasi kepada pemangku kepentingan jika telah ada kepastian untuk melakukan aksi korporasi itu. (art)

17 Jan, 2014


-
Source: http://bisnis.vivanews.com/news/read/473918-nilai-kapitalisasi-pasar-pgn-turun--apa-pemicunya-
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar