"Konsumsi daging per kapita per tahun di Argentina itu 55 kilogram, Brasil 40 kilogram, Jerman 40-45 kilogram, Singapura dan Malaysia 15 kilogram. Kita masih 2,5 kilogram. Ini penting lho, karena protein, mencerdaskan kehidupan bangsa," ujar Gita dalam diskusi dengan tim redaksi VIVA Group di Kantor ANTV, Kompleks Epicentrum, Jakarta.
Oleh karena itu, Gita mengusulkan impor sapi betina produktif dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi di dalam negeri. Tujuannya, mendorong konsumsi daging di dalam negeri semakin meningkat.
Selain itu, jika populasi sapi di dalam negeri meningkat, ketergantungan pasokan impor bisa berkurang. Ini memberi pengaruh positif bagi pembenahan postur neraca perdagangan. "Ini sekaligus memudahkan pengendalian inflasi," kata Gita.
Menurut Gita, jika konsumsi daging di Indonesia ditingkatkan menjadi 20 kilogram per kapita per tahun itu sudah sangat baik untuk upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kendalanya adalah populasi sapi itu tidak mencukupi.
"Kalau mau menaikkan konsumsi daging sampai 20 kilogram, kita perlu stok paling tidak 65 juta ekor sapi. Sekarang, sapi kita cuma ada 13,5 juta ekor. Ini harus dinaikkan," kata Gita.
Populasi yang menyusut dalam kurun dua tahun terakhir pun, menurut Gita, harus menjadi perhatian serius. Dua tahun lalu, populasi sapi di Indonesia sekitar 19 juta ekor.
Namun, ia merujuk data Badan Pusat Statistik, pada awal Mei 2013, populasi sapi dan kerbau tercatat sebanyak 14,24 juta ekor.
"Makanya, usulan impor sapi betina produktif ini berkali-kali saya push ke Kementerian Pertanian, Kemenko Perekonomian, dan rapat kabinet. Dengan 2 juta ekor sapi betina produktif diimpor per tahun, yang bisa melahirkan selama 9 tahun, ini akan melipatgandakan populasi sapi kita," kata Gita. (art)
15 Jan, 2014
-
Source: http://bisnis.vivanews.com/news/read/473306-gita--tingkatkan-populasi-sapi--pengendalian-inflasi-jadi-lebih-mudah
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar